Dari kanan: Zahraini Zainal, ulama kharismatik Tgk. H. Mustafa Ahmad, Umi, dan Linda, di Dayah Madinatuddiniyah, di gampong Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Ahad, 28 Juni 2020. @Istimewa

Kandidat doktor Manajemen Pendidikan di Unimed (Universitas Negeri Medan), Zahraini Zainal, mengatakan, sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang menjalankan misi dakwah serta melahirkan kader ulama, dayah dapat memasukkan mata pelajaran menulis ke dalam kurikulum, sebagaimana muhadharah (pidato).


“Selain dakwah secara lisan, dakwah secara tulisan perlu ditempuh oleh ulama dan guru dayah. Apabila cedikiawan dari dayah berdakwah juga melalui karya tulis, niscaya akan menguatkan pondasi dakwah di Aceh,” kata Zahaini kepada lohangenpost..com, di Banda Aceh, Rabu, 9 September 2020.

Zahraini mengatakan, di zaman perang informasi melalui teknologi seperti sekarang, mengembangkan cara dakwah merupakan hal yang harus segera dilakukan. Hal itu untuk menguatkan posisi dayah sebagai lembaga pendidikan Islam yang utama bagi masyarakat Aceh yang merupakan sistem pendidikan warisan dari abad pertengahan.

“Selama ini, buku-buku tentang Islam yang ada di pasaran, termasuk yang menjadi bahan rujukan kampus tentang dayah, jarang dari tulisan ulama dari dayah. Mungkin akan ada warna baru apabila yang menulis tentang dayah adalah ulama dari dayah sendiri, selain para akademisi kampus. Berdakwah dengan karya tulis, biasanya akan bertahan lebih lama daripada melalui lisan semata. Misalnya, karya tulis ulama terdahulu seperti kitab karangan ulama Aceh, masih dapat dipelajari sampai kini,” kata Zahraini, yang disertasinya tentang dayah.*

40 Views