Photo: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Pada sore itu, Ainun Mardiah (49) tampak tengah sibuk beraktivitas. Jemarinya menari-nari dengan untaian benang pada seperangkat alat tenun tradisional. Tangannya yang mulai keriput juga terlihat sangat lihai memasukan benang di celah benang lain.


Ia adalah salah satu penenun di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dia sudah lama menekuni profesi menenun ini. Kecintaannya terhadap tenun bermula saat bermain di rumah sesepuh tenun Aceh Besar, Nyak Mu.

“Saya mulai belajar tenun ini dulu semasih ada Nyak Mu, kira-kira tahun 1989, semenjak itu saya diajarin sama Nyak Mu secara pribadi bukan melalui diklat,” ujar Ainun saat ditemui detikcom beberapa hari yang lalu.

Ia mengaku berkat ilmu yang diajarkannya tersebut hingga kini masih tetap semangat melakoni pekerjaannya. Sejak tak ada lagi sosok panutan, ia kini belajar bersama Dahlia, anak dari Nyak Mu.

“Semenjak nggak ada lagi Nyak Mu, saya belajar sama Bu Dahlia, kalau bahan bakunya habis saya dikasih sama Bu Dahlia,” katanya.

Dalam waktu sebulan Ainun bisa membuat tiga lembar kain dengan beragam motif dan warna. Namun yang paling sering dibuatnya adalah motif Pucuk Delima yang memiliki warna terang berkilau. Proses pembuatannya pun terbilang cukup lama. Namun, baginya hal itu tidak sulit untuk dilakukan.

“Ada yang siap tujuh hari, ada juga yang 5 hari udah selesai, itu tergantung motif, kalau udah siap kita kasih ke Bu Dahlia,” ungkapnya.

Dari tiga lembar kain yang dibuatnya, ia diberi upah sebesar Rp 500 ribu. Itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan juga membiayai anaknya sekolah.

Ainun meyakini, kain songket ini sudah menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi. Tugasnya untuk selalu melestarikan agar kesenian tenun ini bisa dijalankan oleh generasi muda turun-temurun.*Alfi Kholisdinuka/detik.com

192 Views