Rincong Aceh. Photo: abulyatama.ac.id

Perkembangan teknologi dan politik dapat mengubah fungsi sebuah benda hasil karya cipta manusia. Sesuatu yang di masa silam sebagai hal penting untuk menjaga diri, di masa lain menjadi hiasan dan cenderamata saja.


Rincong, atau rencong, adalah salah satu benda yang bernasib demikian. Di masa kesultanan Aceh Darussalam, pada saat darurat, ada kemungkinan musuh naik ke darat, Sultan memerintahkan setiap rakyat untuk membawa senjata rincong ke manapun pergi, baik laki laki maupun perempuan.

Namun, keadaan politik berubah, Sultan tidak lagi berkuasa dan senjata sudah semakin canggih. Untuk menjaga diri, orang tidak lagi membawa senjata tajam, tetapi senjata api, bagi negara yang mengizinkannya.

Oleh karena itu, rincong pun beralih guna, dari senjata menjadi aksesoris atau pakaian hiasan saat pesta pernikahan. Pakaian adat kebesaran lengkap dengan rincong dipakai oleh pengantin.

Rincong sekarang dapat dijumpai di semua kedai cendramata, dibeli untuk hiasan dalam rumah dan gedung, selain di pinggang pengantin dan aneuk seudati. Ahli membuatnya ada beberapa orang, salah satunya ada di Aceh Utara.

Kita belum tahu, apakah ke depan rincong akan naik kelas lagi dalam bidang berbeda, misalnya menjadi trend fashion, bukan lagi sekedar cenderamata dan hiasan pinggang pengantin dan aneuk seudati.*

Thayeb Loh Angen

110 Views