Dahlia pengrajin songket Aceh. Photo: Rayful Mudassir/Okezone

Kain songket Aceh sudah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Kala itu, kerajinan songket menjadi tradisi di kalangan perempuan Serambi Mekkah. Orangtua Dahlia sendiri, Maryamu atau lebih dikenal Nyakmu, memulai kerajinan songket sekira tahun 1970-an. Ditangannya, songket makin meroket.


Berbekal karya turunan dari keluarganya, Nyakmu mampu meramu bahkan menciptakan berbagai motif songket aceh. Hasilnya, Nyakmu pun mampu mengharumkan Aceh baik di tingkat nasional maupun international.

Presiden Soeharto sempat jatuh hati pada songket Aceh karya Nyakmu. Hasil kerja kerasnya diapresiasi dengan pemberian anugerah Upakarti 1991, penghargaan kepada mereka yang berdedikasi tinggi dalam upaya sangat luar biasa mengembangkan usaha kecil dan menengah.

Nyakmu menjadi perwakilan Indonesia di berbagai ajang pameran hasil karya seni dunia. Berbagai negara, semisal Singapura, Malaysia dan Sri Lanka sudah ia kunjungi memperkenalkan songket Aceh. Di dalam negeri sendiri buah tangan Nyakmu ikut dipamerkan di Jakarta, Bali dan sejumlah daerah lainnya.

Di era kebangkitan kerajinan songket pula, tenarnya karya Nyakmu dan meningkat jumlah pemesan, membuat orang tua Dahlia itu harus mempekerjakan tenaga pengrajin hingga 60 orang di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Berbekal ilmu dari Nyakmu, mereka kemudian mengembangkan usaha sendiri di berbagai daerah seperti Aceh Timur, Lamno, Aceh Besar dan Banda Aceh.

Nyakmu berhasil menciptakan sedikitnya 50 motif songket khas Aceh. Karyanya ikut dibukukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh pada 1992. Namanya abadi di situ, sedangkan Nyakmu sudah dipanggil Sang Khalik pada 2009 dalam usia 73 tahun.*okezone.com

259 Views