Sarah Azeda

Ekonomi kreatif bidang kerajinan tangan untuk aksesoris barang bekas diminta sebagian kalangan milenial dan banyak kalangan lain tentunya.


Seperti yang digeluti Sarah Azeda. Gadis kelahiran Bireuen 8 April 1997 ini memulai usaha tersebut sejak tahun 2012.

Ia menggunakan bahan benang, botol plastik minuman, CD bekas, lem, gunting dan gun pemanas lem, untuk memproduksi barang karyanya.

Sarah mengatakan, ia memasarkan produknya melalui media sosial, bazar dan pameran di Banda Aceh maupun luar kota. Ia juga kerap kali mempromosikan produknya dengan menjadi sponsor di acara tertentu.

“Untuk lokal di sekitar Banda Aceh, bisa COD atau diantar ke alamat pemesan,” katanya kepada Lohangenpost.com, Jumat, 31 Januari, 2020.

Sarah mengatakan, sampai saat ini peminat produk kerajinan tangan dan aksesoris daur ulang miliknya sudah ada dari banyak daerah. Ada yang dari luar kota bahkan luar negeri. Beberapa produknya juga ada yang disisihkan untuk donasi juga mengkampanyekan isu-isu sosial dan lingkungan. Income penjualannya rata-rata Rp 1jt-3jt per bulan. Harga produknya, berkisar antara Rp 10.000 – 150.000 tergantung dari tingkat kesulitan produksi.

“Saya senang mengikuti bazar di Banda Aceh dan juga pernh mengikuti bazar di salah satu Mall di Jakarta. Selain itu, saya juga senang pernah berkesempatan mengikuti seminar dan “International Conference: Sustainable Bussiness” bersama Europe Union di Jakarta. Saya menjalani usaha ini tidak hanya ingin mencari keuntungan finansial tapi juga ingin memberi sedikit dampak bagi lingkungan sekitar.

Sarah mengatakan, sampai saat ini sebagian besar pekerjaan bidang produksi masih dikerjakan sendiri dan kadang dibantu oleh “freelancer”. Jadi belum ada pekerja tetap.

Selain menjual produk, ia juga senang menerima tawaran atau membuat pelatihan kerajinan tangan untuk anak-anak di panti asuhan, yayasan, instansi, dan sebagainya.

“Ke depan, saya ingin lebih banyak memproduksi aksesoris daur ulang untuk mengurangi sampah konsumsi juga mengajak lebih banyak orang lain untuk sadar akan pentingnya membangun bisnis yang berdampak baik bagi lingkungan. Keinginan untuk membuka Workspace & Gallery juga ada tapi masih direncanakan dengan matang,” kata Sarah yang juga mahasiswi Manajemen (Ekonomi Pembangunan) Unsyiah ini.*

360 Views