Medya Hus. Photo: Lamurionline.com

Dalam beberapa tahun terakhir, peci motif Aceh banyak dipakai orang. Dari hari ke hari semakin banyak yang memakainya. Walaupun ada pihak juga yang mengatakan peci yang banyak dipakai itu bentuknya kurang sempurna alias bakham, tidak sesuai aslinya, tetapi peci itu semakin banyak dipakai orang.


Salah seorang yang menjadikan peci itu sebagai ciri khas pakaiannya adalah Medya Hus. Ia merupakan pembaca hikayat Aceh, Ketua Grup Seueng Samlakoe, grup vocal yang bergerak di bidang adat Aceh, seumapa, dan meucae (bersyair: Aceh).

“Saya memakai peci itu karena cinta pada adat dan motif kita sendiri, Aceh. Sehingga kesempatan itu tiba, saya memakainya rutin sejak mengisi acara hikayat di Aceh TV. Setelah itu, kami pun membuat grup Seueng Samlakoe. Grup tersebut sering tampil di depan ramai, panggung, seperti konser. Itu menjadi ajang promosi, yaitu promosi pakaian Aceh, bahasa Aceh, hikayat Aceh walau beda penampilan, dan promosi peci Aceh, terutama yang pernah dipakai oleh orang dulu,” kata Medya Hus, kepada lohangenpost.com, Rabu, 29 Januari 2020.

Medya Hus mengatakan, ada beberapa macam peci Aceh. Di antaranya, yang sudah biasa dilihat, itu yang dipakai oleh sultan. Kalau seperti yang ia pakai adalah untuk untuk rakyat biasa, disebut kupiah syam. Kalau yang bagian atasnya lebih tinggi seperti yang dipakai Panglima Polem, untuk tokoh masyarakat.

“Saya memakai itu sudah lama, tetapi saya mulai lagi dan konsisten setelah tsunami, setelah bergerak di dunia seni secara total di Aceh TV. Bergerak cepat walaupun terlambat. Saya selalu berpesan di mana pun, supaya anak muda dan umumnya masyarakat Aceh untuk mencintai pakaian Aceh. Di sinilah kita mengembalikan marwah Aceh dengan berbicara dalam bahasa Aceh, memakai pakaian Aceh, dengan kita mempromosikan Aceh,” kata Medya Hus.

Di zaman ini, kata dia, sebagian orang sudah tidak mengenal lagi pakaian adat Aceh. Pernah ia alami, waktu ia bersama grup Seueng Samlakoe tampil di Medan. Ketika turun dari Aceh, dikerumuni oleh para wartawan.

Para wartawan itu mengatakan, “Banyak orang Aceh yang tampil di sini, tetapi tidak ada yang pakaiannya seperti grup Bapak.”

“Grup Seueng Samlakoe banyak anggota di seluruh wilayah di Aceh, di wilayah timur, di Pidie, Pidie Jaya, dan Meulaboh. Saya minta kepada semua anggota supaya mereka memakai pakaian hitam dan peci peci syam Aceh sehingga terlihat identitas. Seueng Samlakoe termasuk binaan kami di MAA (Majelis Adat Aceh), saya bergerak di bidang seni tradisi,” kata Medya Hus.

Medya Hus menilai, kiprahnya memromosikan pakaian Aceh berhasil. Ia mengatakan, sekedar cerita, bukan ‘mbong, ada beberapa penjual souvenir (cenderamata) Aceh, saat berjumpa dengannya, mereka mengatakan, ketika orang datang ke tokonya selalu meminta, “toh kupiah cek Medya saboh (berikan satu peci Cek Medya Hus).

“Itu satu keberhasilan, kita selalu mempromosikan peci itu, sehingga booming. Ada lagi lagi di akademi dangdut, mereka tanya pendapat, kita berikan, sehingga peci Aceh ini dipakai host (pembawa acara) di Indosiar. Selain itu, saat Ustaz Abdul Somad dan presiden ke Aceh juga memakainya. Ini promosi awal dari kita dan rekan-rekan yang bersedia memikirkan hal ini. Saya selalu mengharapkan pada para penyanyi Aceh, karena mereka sering tampil di depan umum, mereka sebaiknya memakai pakaian Aceh. Dan lagi ini, kini ada Majelis Seniman Aceh, saya sarankan, apabila ada acara, hendaknya Majelis Seniman Aceh memakai pakaian adat Aceh. Bagi saya pribadi, sekarang, pakaian ini saya pakai sehari hari sehingga menjadi identitas,” kata Medya Hus.*

103 Views