Potret istri dan saudara perempuan Panglima Polem. Photo: wereldculturen.nl

Foto di atas adalah potret istri dan saudara perempuan Panglima Polem. Mereka ditangkap oleh Kaphe Belanda pada 6 September 1903. Kadang ada yang menganggap itu foto Cut Nyak Dhien, yang hidup pada zaman yang sama.


Sebenarnya, pakaian Cut Nyak Dhien dengan isteri panglima Polem sama, mereka sama-sama perempuan Aceh dan sama-sama bangsawan. Namun, di fotonya–saya tidak akan menampilkan foto penghinaan untuk pahlawan itu–Cut Nyak Dhien dipaksa membuka kepala oleh Belanda sehingga ia terlihat menangis di foto itu, sebuah kesengajaan penjajah.

Pakaian yang digunakan oleh mereka adalah pakaian sebagaimana budaya perempuan Aceh pada umumnya saat itu, yaitu pakaian muslim dengan kain panjang, baik bagian tungkai kaki, badan dan kepala.

Umumnya, ada empat kain utama, satu bagian tungkai kaki yang menutup dari tumit sampai pinggang, satu berupa celana yang menutup bagian tungkai kaki sampai pinggang, satu menutup bagian badan dari paha sampai leher, satu lagi menutup bagian kepala yang menjulur sampai menutup dada, ija sawak.

Para bangsawan, biasanya, memakai jenis sungket untuk semua kain itu, dari bahan sutera. Di zaman itu, Aceh punya peternakan dan tenun sutera sendiri, yang hasilnya dijual di Aceh dan diekspor ke luar negeri, salah satunya Sri Lanka. Salah satu contoh rumah tenun Aceh sekarang masih ada di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Para murid Nyak Mu mengurusnya.

Pakaian adalah untuk menutup aurat, sama antara bangsawan dan rakyat biasa. Yang tidak sama pada pakaian mereka hanya pada panjang kain, jenis kain, dan beberapa gaya. Seperti di zaman ini juga, orang kaya dapat memakai pakaian yang lebih mahal, demikian pula di zaman itu.

Jilbab dengan gaya yang sekarang dikenal di Aceh adalah hal baru. Dari segi estetika, ija sawak lebih indah daripada gaya jilbab sekarang, walaupun lebih praktis karena dijahit dan ada pengikat. Pada tahun 1990-an, orang Aceh masih menggunakan ija sawak bagi yang menutup kepala. Bagi yang tidak menutup kepala, hanya membiarkan rambutnya tergerai atau menyangulnya atau mengikatnya.

Pada tahun 1998 terjadi reformasi di Indonesia, maka tren politik berganti termasuk di Aceh yang menguatnya ASNLF yang kemudian dikenal dengan AM, GPK, GPLHT, dan GAM. Pada tahun 2000-an, pemerintah RI memberikan hak untuk Aceh menerapkan syariat Islam, kebijakan tersebut dinilai politis untuk membendung GAM yang membesar tiba-tiba.

Dari sanalah perubahan gaya itu terjadi, orang Aceh saat itu perang, dan tidak memproduksi pakaian muslim. Maka, produsen dari Pulau Jawa menyalurkan pakaian gaya mereka, dan berubahkan gaya Aceh, dari ija sawak menjadi jilbab ala Jakarta, walaupun ija sawak ala Aceh jauh lebih indah.

Sebelum masa reformasi itu, yaitu di masa Orde Baru, pakaian ala Jakarta juga disebarkan ke Aceh, yaitu gaya sanggul palsu dan terbuka serta gaya memakai kain sarung yang ketat. Sebenarnya, pakaian perempuan Aceh itu longgar dengan kain panjang, seperti pada foto di atas.

Saya memang membayangkan fashion orang Aceh kembali kepada gaya ija sawak itu, lebih indah dan berwibawa, yang tampil bersanding dengan gaya fashion modern.

Thayeb Loh Angen, budayawan, novelis, jurnalis, aktivis kebudayaan, dan musisi (sejak 2020 mulai menciptakan lagu bertema inspiratif dan sufi-islamic; sudah ada beberapa lagu, Insya Allah dirilis pada pertengahan tahun 2020).

453 Views