Cina tengah mendapat cobaan yang tidak ringan. Wabah pneumonia dari infeksi virus novel corona (2019-nCoV) telah membuat para petugas medis di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China kewalahan. Bahkan, ada dokter yang merawat pasien virus corona dilaporkan meninggal dunia di Provinsi Hubei, China. Dokter berusia 62 tahun itu dikonfirmasi meninggal karena terinfeksi virus yang sama.


Reuters dan Channel News Asia, mengabarkan pada Sabtu (25/1/2020), dokter yang meninggal dunia itu dilaporkan bernama Liang Wudong. Dia merupakan seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Xinhua Hubei dan ada di garis terdepan dalam memerangi wabah virus corona di kota Wuhan, Provinsi Hubei.

Berikut pakaian yang digunakan para dokter dalam menangani orang-orang yang terjangkit virus tersebut di sana. Mereka menutup tubuh dengan pakaian anti udara dan air.

Staf medis membawa seorang pasien ke Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan yang menjadi lokasi perawatan pasien terinfeksi virus corona. Foto diambil 18 Januari sebelum kota Wuhan dikarantina. (STR/AFP)

Pakaian yang menutup seluruh tubuh dari bahan khusus merupakan standar kedokteran untuk para dokter dan perawat yang menangani penyakit menular. Walaupun itu tidak menjamin todal seperti kasus di Cina tersebut, tetapi dapat meminimalisirnya.

Sementara, sindonews.com, mengabarkan, pakar perang biologis Israel mengatakan, virus mematikan yang kini menyebar ke penjuru dunia diduga berasal dari laboratorium di Wuhan terkait program senjata biologis China.

Radio Free Asia pekan ini menyiarkan ulang laporan televisi Wuhan dari tahun 2015 yang menunjukkan laboratorium riset virus paling canggih di China yang disebut Wuhan Institute of Virology.

Laboratorium itu menjadi satu-satunya lokasi yang dideklarasikan di China yang mampu menangani berbagai virus mematikan.

Mantan pejabat intelijen militer Israel Dany Shoham yang mempelajari perang biologi China menjelaskan, laboratorium itu terkait dengan program senjata biologis rahasia China.

“Sejumlah laboratorium di institut itu mungkin terkait, dalam hal riset dan pengembangan, dalam (senjata biologis) China, paling tidak secara kolateral, namun belum sebagai fasilitas utama senjata biologi China,” papar Shoham pada The Washington Times.

“Pekerjaan pada senjata biologis itu dilakukan sebagai bagian riset militer-sipil dan jelas rahasia,” papar dia melalui email.

Shoham memegang gelar doktor dalam mikrobiologi medis. Dari 1970 hingga 1991 dia menjadi analis senior intelijen militer Israel untuk peran biologis dan perang bahan kimi di Timur Tengah dan dunia. Dia juga memegang pangkat letnan kolonel di militer Israel.

Juru bicara Kedutaan Besar (Kedubes) China belum membalas email untuk komentar dalam tuduhan itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyebut mikroba itu dengan nama 2019-nCoV. WHO belum mendeklarasikan wabah itu sebagai Darurat Kesehatan Publik Kekhawatiran Internasional. WHO hanya menyatakan wabah itu darurat di China.*

70 Views