Pemain Terengganu FC yang muslim mneutup aurat. Photo: njs/kosmo/footballtribe/foto:twitter Terengganu FC)

Permainan sepakbola (dalam bahasa Aceh disebut meu’en bhan) merupakan olahraga yang paling bergengsi dan diminati di Aceh. Mulai dari pinggir laut sampai puncak gunung, mulai dari kampung sampai tengah kota, mulai dunia (tidak) sampai akhirat.


Permainan sepakbola memang memacu andrenalin. Dulu, diceritakan oleh orang tua-tua, ketika pertama akli datang ke Aceh, permainan sepakbola ini dilarang di kampung-kampung. Namun, kemudian, menjadi terbiasa dan dianggap sebuah kebiasaan, bahkan dibuat pertandingan. Dunia berubah, cara pandang berubah.

Ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan bagiku, ketika pemerintah Aceh membuat Qanun Syariat Islam, dan para petugasnya merazia perempuan yang membuka kepala dan memakai berpakaian ketat, apakah mereka juga merazia sebagian pemain sepakbola yang memakai pakaian tidak menutup aurat saat bertanding? Ini belum pernah kutanyakan kepada pihak berwewenang seperti Ketua MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) atau Kepala Dinas Syariat Islam atau Kepala Satpol PP/WH.

Namun, baru-baru ini aku berbicara tentang hal itu kepada seorang kepala bidang media sebuah klub sepakbola terkenal (nama orang dan klub dirahasiakan untuk alasan nama baik).

Ia menjawab begini, “Sebagian pemain kita memakai kain membalut kali mereka dari paha sampai betis sehingga aurat mereka tertutup, dan sebagian lagi tidak melakukannya. Biarkan itu menjadi kesadaran mereka masing-masing. Kalau kita bicarakan itu, mungkin akan ditertawakan nantinya,” katanya.

Maksud dari artikel ini adalah hanya untuk bertanya, sekaligus untuk adanya keseimbangan penerapan aturan terhadap laki-laki dan perempuan. Aku tidak menyarankan supaya MPU dan dinas syariat Islam bekerjasama dengan dinas olahraga dan KONI lalu mengeluarkan aturan supaya pemain sepakbola di Aceh memakai pakaian yang menutup aurat saat bertanding. Aku hanya mempertanyakan, itu bagaimana? Bukankah kita sering mendengar istilah kaffah?

Untuk hal tersebut, kusertakan satu contoh yang diberlakukan di Terengganu, Malaysia.

Sebagaimana diberitakan oleh Kosmo.com.my yang dilanjutkan oleh gomuslim.co.id, Klub Sepakbola asal Malaysia, Terengganu FC yang merupakan kontestan di Liga Super Malaysia itu mewajibkan semua pemain yang beragama Islam menutup auratnya ketika bertanding.

Pada 2018, pelatih usia dini Terengganu FC, Wan Sukairi Wan Abdullah menyampaikan peraturan itu. Ia mengatakan peraturan tersebut untuk mematuhi syariat Islam, dan hanya diwajibkan pada pemain yang beragama Islam.

Pelaksanaan peraturan tersebut akan dilakukan secara bertahap, menurutnya. Ia mengharapkan, dengan adanya peraturan menutup aurat tersebut sebagian pemain Terengganu FC akan turun ke lapangan dengan kaos kaki panjang sampai menutupi lutut.

Peraturan tersebut disambut baik oleh para suporter Terengganu FC. Ada yang mengatakan bahwa menjalanan syariah Islam memang harus begitu di manapun berada, ada pula yang memberi doa dan selamat karena Terengganu FC dengan berani mengimplementasikan ajaran Islam di kesebelasan yang multi-etnis.

Demikian yang terjadi di malaysia. Kita menunggu kabar dari pejabat berwewenang di Aceh, untuk kejelasan status saja. Oya, kabarnya, Liga 1 musim 2020 diadakan pada awal 2020 di Stadion Lhong Raya, Banda Aceh. Wallahu aklam.*

Oleh: Thayeb Loh Angen, budayawan.

111 Views